
guratan senja lantai 10.
Menandakan ada yang harus diakhiri dan ada yang harus dimulai.
kenyataannya, sekalipun senja sebagai prolog akan dialog yang menghadirkan pekat.
Namun,
Kerdil putih dipenghujung langit,mengelindingkan kenyataan kalau pekat bukanlah kelam.
krn gemerlapnya akan kemandirian sinarnya tak kan mau tertutup polusi cahaya gemerlap ibukota,gedung" bahkan kehedonan sekalipun.
Dilain tempat,sungai pun mengukuhkan keadaannya.
meski arus tak menjanjikan riak yang tenang..
meski manusia senantiasa menghadirkan genangan sampahnya.
Namun alirannya menjejak pasti bahwa ia tahu yang di tuju bukan sekedar memilih apa yang ada.
Ia tahu pasti laut tujuannya...bukan cabang parit fatamorgana.
Disisi dimensi lain,
mimpi slalu berdendang indah dalam senandung bintang dan irama sungai..mencipta harmoni akan semangat hidup yang tak pernah padam.
akan mimpi yang takan tergerus cacimaki.akan imajinasi yang takan pernah tamat.
Karena aku adalah mereka.
Karena aku adalah,bintang,sungai,mimpi.
Karena aku adalah perempuan,yang tidak akan pernah pasrah akan "keperempuanan" ku.
Karena aku tahu,Allah menghadirkan kemampuan yang luar biasa untuk aku belajar dan mampu meletakan bintang,sungai,dan mimpi dalam koordinat takdirku.


0 komentar:
Posting Komentar