Iman yang hadir dengan keyakinan sangat tanpa tapi.
Namun,
berbeda dengan mengimani takdirNYA.
Kadang hembusan syaithon mengalir dalam bentuk komplain dan komplain kita terhadap apa yang tidak kita harapkan.
Merasa kita yang sudah melakukan yang terbaik maka harus mendapat hasil yang terbaik juga.
Saat surut lupa paham akan takdir, lelah hadir memenuhi hati.
Maka menyepi dalam rinai kemudian,
Belajar dan belajar..
Seperti rinai hujan..
Jatuh lurus menyentuh tanah.
Tanpa berbalik arah memantul langsung berlari pada langit.
Belajar dan belajar
Pada pekat yang menerima kelam.
Menunggu tik tok waktu yang menjadikannya sapuan pagi.
Belajar dan belajar
Pada ranting, dalam keringnya.
Sabar menanti pita pucuk hijau menghias setiap sudut kembali.
“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir baik buruknya.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.”
(al-Qamar: 49)
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
"......dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)
Allah berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)
“Jika umat manusia berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat kepadamu sedikit pun melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah (HR. at-Tirmidzi)


0 komentar:
Posting Komentar