dulu kami ringan . . .
seringan langkah kaki kami yang masih tertopang keluarga.
walau latar keluarga kami tak selamanya indah, tapi kami tak terlalu dalam berat. meski terkadang dari kami diam diam menggunakan topeng ringan, yang kasat mata.
karena kami ingin ringan dan kami memang ringan.
karena kami si putih abu abu.
si pemilik keringan'nan dalam fase hidup yang diakui semua manusia.
tertawa lepas...bermain...berkelakar tak putusnya menjadi penyambung persahabatan kami.
diselingin "rasa" yang lebih dari sekedar porsi yang seharusnya menjadi warna kami berdelapan. tak dipungkiri.
semua ringan dimasanya.
namun hidup tak hanya diam di tempat, kawan.
selanjutnya si ringan-ringan, mendudukin tempat yang "maha" di bangku kuliah.
perlahan setiap keringan'nan tak sepolos yang kita temui sebelumnya.
jalur jalur mulai membentang di depan kami berdelapan.
entah memang hulu kami atau bukan.
tapi ini beda...
tak seringan putih abu abu, tawa pun ada sedikit berat yg mengikut.
tapi saat delapan berlebur dalam riang yang ringan *walau sesaat karena keterbatasan*
semua kembali terasa seperti putih abu abu.
entah ini sebuah peng'agungan dari persahabatan atau hanya karangan ku saya.
tapi kalian adalah ringan yang indah.
hidup bergerak kawan...
ganjalan...permasalahan semakin menggampar kita menjadi manusia yang unggul.
dan kita selalu tak menyadari itu karena terlalu khusyuk dalam berat.
karena kita selalu me'label kan "paling" sebagai harga kesulitan kita.
paling sedih,
paling terpuruk,
paling sulit,
paling tak bisa menghadapi hidup,
yang kesemuanya ternyata porsinya tak seringan saat kita dalam putih abu abu.
dan saya pun tak luput dari pencitraan "paling" dalam catatan saya.
semua wajar kawan.
tapi kalian adalah bagian dari fase "paling" ringan saya.
dan "paling" dalam citra yang indah karena bentuk memiliki.
hidup kita kini baru lagi kawan...
babak ketiga bahkan keempat sudah di mulai...premier demi premier tak terelakan.
skenario cinta, skenario karir, skenario finansial, skenario rumah tangga menggelinding tanpa mampu kita rem.
waktu menjadi batas untuk bertemu fisik.
jarak menjadi pemisah tempat.
tapi, yakin itu hanya bualan...
selama kita bisa tetap maksimal dan menjadi budak tehnologi.
kita akan tetap bisa menjadi si ringan.
walau tak se ringan putih abu abu, tak masalah bukan?
yang penting salah satu beban kita terangkat walau hanya menghasilkan seinci ringan dari jutaan ton berat.
semua sudah takdir...
tapi tetap menjadi indah dan ringan tergantung si lakon memainkan perspektifnya.
kalau satu berat....masih ada tujuh.
kalau satu jatuh...masih ada tujuh.
karena semua delapan....sebuah nominal angka yang tak terputus wujudnya.
karena, persahabatan adalah cinta yang dipenuhi pengertian...
tuk:siapapun yang sedang "paling", masih ada tujuh untuk berbagi.
jika tak bisa tujuh, pilihlah satu diantara tujuh.
karena kamu tidak sendiri


0 komentar:
Posting Komentar