dee idea salah satu blog favorite saya...
tulisan demi tulisannya bagai sulaman tangan yang memiliki hati.
dan untuk kesekian kalinya, otak ini terinspirasi oleh setiap inci rangkaian katanya.
sebut saja, salah satu tulisannya dee yang berjudul " manusia, bukan cuma mama "
" . . . Kehilangan saya yang paling kuat bukan disebabkan karena saya belum sempat menghadiahinya wisata melihat Betlehem, bukan karena Mama tidak sempat melihat saya memberinya cucu, bukan karena banyaknya peristiwa penting dan bersejarah dalam hidup saya yang membutuhkan kehadirannya, tapi semata-mata karena saya belum mengenalnya sebagai manusia—titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap saya ingin mengenang beliau, saya selalu berbenturan dengan tembok tebal yang diciptakan aneka peran yang Mama mainkan selama hidupnya. . . "
selama ini saya, anda, kita, mereka. sudah dan selalu terkondisikan sebuah konstruksi yang sangat konvensional dalam sebuah bangunan keluarga.
saya, anda, kita bahkan mereka selalu mengikuti alur pakem sebuah kotak kotak kecil yang berlabel "orang tua" (ayah, bunda) dan berlabel "anak". tak ada yang berani keluar dari kotak kultur budaya dan agama.
dan tanpa kita sadari pada akhirnya hanya akan menghasilkan topeng topeng lakon.
kenapa...?
karena kita saya, anda, kita dan mereka hanya tahu orang tua itu harus dihormati, di sayangi, dicintai,dituruti segala kemauan (jika melawan tambahan label durhaka mungkin kan tertempel...)dan segala tradisi penghormatan lainnya.
tapi diluar itu pernahkan saya (saya pun tidak), anda, kita dan mereka mengenal sosok orangtua sebagai sosok manusia yang utuh di tengah masyarakat. yang punya segala keunggulan dan kekurangan tanpa kita hanya melihatnya dari satu perspektif (orang tua).
pun demikian dengan "si anak". pernahkan saya (saya pun sedang belajar), anda, kita dan mereka yang sudah berlabel "orangtua". melihat "si anak" tidak hanya sebatas perspektif "titipan Sang Khalik" tapi memandang keberadaan "si anak" lebih pada "sesama ciptaanNYA".
ada ruang yang tercipta, dengan sudut pandang "titipan" dimana, seolah strata yang "dititipkan" lebih tinggi dibandingkan "si titipan".
yang akhirnya terkadang saya, anda, kita, mereka. terbangun sebuah rasa kepemilikan yang besar, sehingga bebas mengatur "sititipan"
dan parahnya untuk hal yang paling idealis pun "sititipan" harus bernegosiasi dengan orang tua dan tak anyal bentrok hati pun terjadi.
selama ini saya, anda, kita bahkan mereka sudah berada di jalur ciptaan tradisi ini, jalur yang juga tak salah jika digunakan dengan bijak.
namun apa salahnya jika dalam hidup kita saling berbagi untuk terus belajar...karena hidup adalah universitas dunia.
dan pastinya setiap pembelajaran guna mencapai suatu perspektif yang lebih kaya.
memandang hubungan orang tua dan anak tak hanya sebatas "TERKOTAK PERAN"...tapi lebih kepada keberadaan mereka sebagai manusia ciptaanNYA, akan jauh lebih indah dan akan lebih mudah membangun empati.
seperti yang terkutip dalam tulisan dee (lagi)...
" . . . Selama kita bersembunyi dan terperangkap dalam peran-peran yang kita jalankan, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas tameng. Sebatas pengondisian. Kita bahkan bisa berjalan sepanjang hayat dikandung badan di atas planet ini tanpa pernah menyadari topeng-topeng yang kita kenakan, yang meski dalam interaksinya kita bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan hal-hal positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua. . . "
ya....ada sesuatu yang lebih dari itu.
dan pembelajaran ini akan saya persembahkan untuk Al'ghaniyyu Raya Syabani ciptaanNYA.
with love,
bunda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar